Bismillahirrahmanirrahim

Hingga tulisan ini dibuat, terhitung tanggal 4 Juli 2021 atau 23 Dzul Qaidah 1442 H, pasien Covid-19 di Indonesia mencapai angka 2,23jt kasus, 59.534 orang meninggal dunia karena virus ini, dan 1,9jt orang dinyatakan sembuh.

Makhluk ciptaan Allah yang tak terlihat ini sungguh merubah tatanan kehidupan manusia, baik dari segi kesehatan, ekonomi, sosial, hingga keagamaan. Segala upaya telah diupayakan oleh pemerintah dan masyarakat. Bahkan sekarang diberlakukan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) setelah kasusnya melonjak naik.

Tiap detik penderita Covid-19 semakin bertambah, namun hingga kini belum ada obat medis yang dipercaya ampuh mengobati virus ini.

Beberapa tenaga medis baik dokter maupun perawat, perlahan ikut terpapar virus tersebut hingga mereka menghembuskan nafas yang terakhir. Semoga segala amal kebaikan mereka diterima di sisi Allah Swt.

Melihat fonomena seperti ini tentunya kita khawatir, panik, dan bingung harus bagaimana.

Lalu, kepada siapakah kita akan berharap selain kepada-Nya?

Sadarkah bahwa peristiwa global ini membuat kita makin merasa tak berdaya di hadapan Dia yang kuasa?

Lupakah kita bahwa semua yang ada di dunia adalah milik-Nya dan segala sesuatu yang terjadi sudah pasti atas kehendak-Nya?

Apakah kita lupa juga atau bahkan tidak tahu bahwa ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang menyatakan bahwa Al Qur’an itu sendiri adalah penyembuh?

Lalu kenapa kita tidak mencoba berupaya menghilangkan virus ini dengan Al Qur’an?

Tidak yakin kah kita? Ragu kah kita?

Lalu, dimana iman kita?

Bukankah sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa penyakit-penyakit ganas dapat sembuh dengan Al Qur’an?

Sebagaimana yang pernah terjadi pada salah seorang warga Lebanon. Ia tergolek lemah selama tiga bulan di rumah sakit karena menderita kanker. Namun ada salah satu anggota keluarganya yang senantiasa menjaga sambil membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an di dekatnya.

Bahkan dokter sendiri sudah memvonis bahwa si pasien tersebut hanya akan mampu bertahan hidup selama satu bulan.

Namun apa yang terjadi di luar dugaan, dalam rentang waktu tiga bulan si pasien masih mampu bertahan hidup dan kondisinya justru makin membaik.

Sang dokter pun heran kenapa hal itu bisa terjadi padahal dari segi medis sudah tidak ada lagi harapan. Namun ia teringat kepada sosok Alfred Tomatis, salah satu dokter warga negara Prancis yang pernah melakukan penelitian tentang indera pendengaran manusia dalam waktu 50 tahun.

Dalam penelitiannya, dokter Alfred Tomatis berkesimpulan bahwa pendengaran merupakan indera yang paling penting, karena mampu mengontrol keseimbangan seluruh tubuh dan sistem syaraf manusia.

Beliau memaparkan bahwa syaraf pendengaran terhubung dengan seluruh otot tubuh. Dan ini merupakan alasan mengapa keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, serta indera penglihatan itu terpengaruh oleh suara. Ternyata telinga bagian dalam terhubung dengan seluruh organ tubuh, seperti jantung, paru-paru, hati, perut, dan usus.

Begitu pula yang diungkapkan oleh dokter ahli kanker di rumah sakit Beirut, bahwa bacaan Al Qur’an yang dibacakan atau diperdengarkan dengan baik dan benar sesuai tajwid memiliki efek luar biasa terhadap sel-sel tubuh manusia serta dapat mengembalikan keseimbangan sistem syaraf yang sedang mengalami gangguan.

Dan sejak saat itulah selain upaya medis yang ia lakukan, dokter tersebut juga menambah terapinya dengan membacakan atau memperdengarkan ayat-ayat Al Qur’an untuk penyembuhan pasien-pasienny­a.

Peneliti lainnya juga mengungkapkan, “sel kanker hancur hanya dengan frekuensi-freku­ensi suara. Itulah mengapa bacaan Al Qur’an memiliki pengaruh besar terhadap kanker yang paling berbahaya dan akut sekalipun!”

Namun apakah hal ini hanya berpengaruh pada sel-sel saja? Jawabannya adalah tidak. Karena suara dapat mempengaruhi segala sesuatu di sekitar kita. Inilah yang dibuktikan oleh Masaru Emoto, ilmuwan Jepang dalam eksperimennya terhadap air. Ia menemukan bahwa medan elektromagnetik­ pada molekul-molekul­ air sangat bisa dipengaruhi oleh suara. Dan ada suara-suara tertentu yang mampu mempengaruhi molekul serta membuatnya lebih teratur.

Jika kita mengingat kembali bahwa 70% tubuh manusia itu adalah air, maka suara yang didengar oleh manusia otomatis akan mempengaruhi keteraturan molekul-molekul­ air pada sel-sel tubuh kita.

Para peneliti lain juga menuturkan bahwa suara manusia dapat mengobati banyak macam penyakit termasuk kanker. Para terapis pun menyetujui bahwa ada suara-suara tertentu yang lebih efektif dalam proses penyembuhan suatu penyakit, dan dapat pula berpengaruh dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Jika Anda membacakan Al Qur’an pada air, maka karakteristik molekul air tersebut akan berubah. Dan ketika airnya diminum oleh orang yang berpenyakit akan dapat memberikan dampak kesembuhan.

Lalu bagaimana bacaan Al Qur’an itu bisa mengobati kanker? Ternyata, virus dan kuman akan bergetar ketika dibacakan ayat-ayat suci Al Qur’an.

“Nada-nada yang keluar dari bacaan Al Qur’an dapat menghentikan perkembangbiakka­n virus serta kuman dalam tubuh kita. Dan dalam waktu bersamaan justru dapat meningkatkan aktivitas sel-sel sehat sekaligus membangkitkan program kekebalan tubuh yang sedang kacau agar siap bertempur melawan virus dan kuman yang ada.” jelas dokter Fabien yang juga melakukan penelitian bahwa Al Qur’an mampu menyembuhkan kanker.

Menurutnya, nada-nada dari bacaan Al Qur’an itu terdiri dari sekumpulan frekuensi yang sampai ke telinga, lalu bergerak ke sel-sel otak dan memodifikasi vibrasi-vibrasi­nya menjadi lebih baik. Perubahan pada vibrasi inilah yang kita rasakan ketika mengulangi bacaan atau mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an.

Inilah bukti kebenaran salah satu ayat yang menjelaskan bahwa Al Qur’an sebagai penyembuh.

Allah berfirman :

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَاهُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَيَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلاَّخَسَارً

“Dan Kami turunkan dari Al Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).

Lalu kenapa hal ini tidak kita terapkan untuk proses penyembuhan pasien yang terkena Covid-19?

Cukup perdengarkan saja murottal Al Qur’an 30 juz sesering mungkin atau full selama 24 jam di dekat telinga pasien. Dengarkan dengan penuh penghayatan meskipun tidak mengetahui artinya. Hal ini juga boleh dilakukan pada pasien non muslim. Perdengarkan saja, di samping usaha medis yang dilakukan.

Cukup mudah, bisa menggunakan headset jika memungkinkan, atau nyalakan saja HP di ruangan isolasi atau ruang ICU tersebut dengan bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an.

Yuk, praktikkan. Ilmuan dan dokter di dunia barat sudah mempraktikkanya, loh. masa kita yang muslim belum mencobanya?

Silahkan bisa dishare tulisan saya jika Anda merasa ini bisa menjadi solusi untuk bangsa kita khususnya dan dunia pada umumnya.

Penulis

Metha Arum