إِنَّهُ لَقُرْءَانٌ كَرِيمٌ

فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ

لاَّ يَمَسَّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ

تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ

 

Artinya :

Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. (77)

Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). (78)

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (79)

Diturunkan dari Rabb Semesta Alam. (80)

(QS. Al Waqiah : 77-80)

 

Pantaslah Al Qur’an disebut sebagai mukjizat di akhir zaman, yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat jibril kepada Nabi Muhammad Saw kurang lebih pada 14 abad yang lalu. Kitab suci yang mampu dihafalkan oleh jutaan ummat muslim hingga sekarang.

Makin hari, jumlah penghafal Al Qur’an makin bertambah, bahkan kalaupun kitab Al Qur’an yang ada di dunia ini hilang, otensitas Al Qur’an akan tetap terjamin dikarenakan setiap ayatnya sudah ada di dalam memori para penghafal Al Qur’an.

Allah yang menurunkan, Allah pula yang menjamin penjagaan dan kemurniannya dari pihak-pihak jahil yang hendak merubah isi Al Qur’an.

Ada yang mengatakan kalau mengahfal Al Qur’an itu gampan-gampang susah. Gampang menghafalnya namun susah untuk menjaganya. Sebetulnya, dalam proses menghafalnya pun tidak bisa dibilang mudah. Ada manusia yang otaknya diberi kemudahan menghafal oleh Allah, namun ada pula yang sulit menghafal sehingga membutuhkan proses yang cukup lama dalam menyelesaikan hafalan Al Qur’an.

Baik yang gampang atau susah menghafal, pasti ada saja rintangannya. Mulai dari malas, tidak konsisten, keraguan, rasa lelah, jenuh, dan lain sebagainya. Oleh karenanya keteguhan niat dan kebersihan hati adalah hal yang paling utama ketika seseorang hendak memulai menghafal Al Qur’an.

Dalam proses menghafal, dibutuhkan komitmen dan konsistensi yang tinggi untuk terus istiqomah dalam menjaga Al Qur’an hingga akhir hayat. Karena menghafal Al Qur’an bukan hanya sekedar ikut-ikutan trend agar dikenal sebagai penghafal Al Qur’an. Karena pada akhirnya, mereka yang benar-benar berniat lillahi ta’ala dalam menghafal Al Qur’an lah yang akan menuai keberkahan dan keridhoan dari Allah Swt baik di dunia maupun di akhirat.

Di zaman sekarang ini banyak yang hafal Al Qur’an, namun apakah semua memahami isi, mempraktikkan, dan mengamalkannya dengan sepenuh hati? Banyak yang hafal Al Qur’an namun akhlaknya pun jauh dari Al Qur’an. Hal ini cukup menyedihkan, oleh karenanya terus tetapkan dan teguhkan niat dalam menghafal Al Qur’an murni karena ingin mengharap ridho Allah Swt, bukan karena ingin dipuji oleh manusia.

Dalam proses menghafal Al Qur’an, segala sesuatunya harus dijaga. Mulai dari ibadah-ibadah yang wajib hingga sunnah. Keduanya harus berjalan beriringan, benar-benar bertaqwa kepada Allah Swt dan menjauhi segala larangannya. Kesulitan menghafal Al Qur’an dikarenakan karena maksiat yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Syafi’i kepada gurunya.  ” Aku pernah mengadukan kepada Waki’ (guru) tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.”

Menghafal Al Qur’an sejak dini juga cukup mempengaruhi kualitas hafalan seseorang. Semakin muda usia sesorang memulai menghafal  Al Qur’an, akan semakin kuat ingatannya ketika ia dewasa kelak, tentunya diimbangi dengan murojaah yang konsisten.

Salah satu pesantren yang konsen kepada pencetakan hafidz hafidzah sejak usia dini adalah Pesantren Qoiman Qurroul Qur’an, di Cinere – Depok. Di sana menerima santri baru dengan usia miminal 6 tahun. Selain itu para santri juga diberi pelajaran lain seperti Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Marawis, Sari Tilawah, dan masih banyak lagi.

Selain itu, para santri juga tetap diizinkan mengenyam pendidikan di sekolah umum di dekat pesantren. Dengan tim pengajar yang profesional dan berkecimpung di bidang Al Qur’an, seperti :

  1. Pengajar Murottal, Dr. H. Ahmad Muhasyim, SQ, MA : Imam Masjid Istiqlal, Dosen Ahli Tajwid dan Qiraat PTIQ Jakarta
  2. Pengajar Murottal, Muhammad Aidil Haq, SQ, S.HI : Qori Internasional, Imam Masjid Pondok Indah
  3. Pengajar Tahfidz, M. Riswan Pulungan, SQ, S.HI : Imam Masjid Kuba Emas, Imam Masjid Raya Cinere
  4. Pengajar Tahfidz, Rahmat Hidayat Batubara, MA. BA : Tim Hafidz Ponpes Khodijah Jakarta, Dosen Ahli Bahasa Arab
  5. Pengajar Tahsin, Muhammad Munir, SQ, S.Sy : Ketua Tahsinul Quran wal Qiraat Jakarta, Waketum Rumah Tahfidz Indonesia

Tidak diragukan lagi kualitas yang ada di pesantren Qoiman Qurroul Qur’an.