Pentingnya kemandirian pada jiwa anak, karena pada masanya kelak mereka akan tumbuh menjadi seorang dewasa yang diharapkan mampu bersikap mandiri dalam segala hal.

Sudahkah kita sebagai orang tua mengajarkan dan membekali kemandirian pada jiwa anak? Atau malah kita pribadi yang membuat repot pola asuh itu sendiri dengan tidak mulai mengajarkan kemandirian pada diri anak? Seperti misalnya menyediakan segala keperluan anak meski sebenarnya dia sudah bisa mandiri.

Anak dikatakan mandiri jika ia sudah mampu berpikir dan bertindak, tidak tergantung pada bantuan orang lain baik secara fisik maupun emosional.

Yuk, perhatikan faktor-faktor berikut agar kita bisa melatih anak menjadi pribadi yang mandiri.

Menurut Hasan Basri terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya kemandirian pada diri anak yaitu :

1. Faktor Internal

Faktor Internal yaitu segala sesuatu yang bersumber dalam diri anak itu sendiri. Faktor internal terdiri dari faktor peran jenis kelamin, secara fisik anak laki-laki dan perempuan akan berbeda dalam kemandiriannya. Faktor kecerdasan atau intelegensi, yaitu anak yang memiliki intelegensi tinggi akan lebih cepat menampung sesuatu hal sehingga ia bisa lebih awal bersikap dan bertindak secara mandiri.

2.   Faktor Eksternal

Faktor Eksternal yaitu pengaruh yang datang dari luar. Terdiri dari faktor pola asuh, untuk bisa mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan dari orang-orang sekitarnya. Kemudian faktor sosial budaya yaitu merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan si anak, terutama dalam kebiasaan-kebiasaan hidupnya.

Banyak hal yang dapat melatih kemandirian pada anak. Seperti melalui kegiatan bermain misalnya : mendorong anak agar membereskan mainannya sendiri, mendorong anak untuk memilih mainannya sendiri, mengizinkan anak untuk memilih pakaian sendiri yang akan dikenakan, mendorong anak untuk membersihkan meja bila kotor, dan memuji serta mengapresiasi anak jika mereka sudah berhasil mandiri.

Rasulullah SAW sangat memperhatikan bagaimana pertumbuhan potensi seorang anak. Beliau membangun sifat rasa percaya diri dan mandiri pada diri anak, agar kelak mereka dapat bergaul ditengah masyarakat dengan baik. Sehingga tidak menyebabkan seorang menjadi minder karena tidak percaya diri.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW dalam tafsir Al-Manar karya Sayid Muhammad Rasyid Ridha, “Bermain-mainlah dengan anakmu selama seminggu, didiklah ia selama seminggu, temanilah ia selama seminggu pula, kemudian suruhlah ia mandiri.” (HR. Bukhari)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa orang tua mempunyai andil yang begitu besar dalam membentuk kemandirian seorang anak. Kita sebagai orang tua diminta membersamai mereka dengan penuh kesabaran dan tentunya diiringi ilmu pada setiap tahapan dalam mendidik mereka. Karena anak adalah amanah yang Allah titipkan pada kita sebagai orang tua. Kitalah yang bertanggung jawab atas mereka di hadapan Allah di dunia ini hingga di akhirat kelak.