Salim Maula bin Abu Hudzaifah bin Utbah, pernahkah Anda mendengar nama sahabat Rasulullah Saw yang satu ini?

Mengapa sampai Rasulullah begitu memuliakan beliau dan berpesan kepada para sahabat yang ingin belajar dan menghafal Al Qur’an, agar berguru kepada Salim?

Sebagaimana beliau menyampaikan dalam sebuah hadist, “Ambillah olehmu (riwayat dan bacaan) Al Qur’an itu dari empat orang, yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula bin Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal!”

Ya, Salim dulunya adalah seorang budak kaum Quraisy yang masuk Islam pada masa permulaan dan termasuk ke dalam generasi pertama kaum muslim ketika itu.

Kepandaiannya menghafal Al Qur’an dan belajar langsung dari Rasulullah Saw, membuat Allah mengangkat derajat Salim yang ketika itu statusnya sebagai budak, lalu dimerdekakan oleh Abu Hudzaifah yang juga memeluk Islam pada fase permulaan.

Abu Hudzaifah adalah putra Utbah bin Rabi’ah, salah satu pemuka Quraisy yang menolak akan kebenaran Islam.

Dengan keislaman Abu Hudzaifah, beliau mengangkat Salim menjadi anak angkatnya. Dan kemudian Salim pun dipanggil dengan nama lengkap Salim Maula (hamba sahaya yang dimerdekakan) bin Abu Hudzaifah.

Namun pada suatu hari, turunlah ayat yang membatalkan kebiasaan suku Quraisy mengambil anak angkat. Maka setiap anak angkat kembali menyandang nama bapak aslinya. Seprerti Zaid bin Haritsah yang diangkat anak oleh Nabi Saw hingga dikenal oleh kaum Muslimin sebagai Zaid bin Muhammad Saw. Ia kembali menyandang nama bapak kandungnya Haritsah, namanya berubah menjadi Zaid bin Haritsah.

Tetapi lain halnya dengan Salim. Qodarullah, ayah Salim tidak diketahui siapa, oleh karenanya ia tetap menghubungkan diri kepada orang yang telah membebaskannya yaitu Abu Hudzaifah. Lagi-lagi Allah muliakan Salim yang hafal Al Qur’an dengan tetap meninggikan kedudukannya di dunia yakni tetap dipanggil sebagai anak dari Abu Hudzaifah. Kedua sahabat ini terkenal sangat khusyuk ketika beribadah.

Suatu saat, tibalah perintah berjihad oleh Rasulullah kepada kaum muslimin Mekkah. Pada masa itu, kekhalifahan dipimpin oleh Abu Bakar As Shidiq. Beliau memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berperang melawan Musailamah Al Kadzab yang mengaku-ngaku sebagai nabi.

Khalid bin Walid pun diperintah untuk memimpin pasukan perang kaum muslimin oleh sang khalifah.

13.000 kaum muslimin melawan 40.000 pasukan murtadin, dua di antaranya yang berangkat jihad di medan perang adalah Salim dan Abu Hudzaifah.

Hiruk pikuk dan mencekamnya situasi peperangan, tak menyurutkan nyali keduanya dan pasukan muslim lainnya untuk menyerang pasukan murtadin yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Dan atas rahmat Allah, pasukan muslim pun berhasil memenangkan peperangan meski banyak korban berjatuhan. Beberapa yang syahid dua di antaranya adalah Salim dan Abu Hudzaifah.

Saat peperangan berlangsung, ketika itu Salim menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Abu Hudzaifah terbunuh, beliau pun langsung berlari mendekat ke sahabat sekaligus ayah angkat tercintanya itu.

Namun, belum sampai Salim meraih tubuh Abu Hudzaifah, tubuh Salim terpanah oleh salah satu pasukan kaum murtadin. Dalam kepayahannya menahan rasa sakit, Salim tetap berusaha mendekati jasad Abu Hudzaifah.

Dan pada saat itu, tubuh Salim jatuh lunglai tergeletak persis di samping jasad Abu Hudzaifah.

Sungguh akhir hayat yang sangat indah diperoleh oleh kedua saudara ini.

Sementara itu, Sang Pemimpin perang kaum muslimin Khalid bin Walid yang menyaksikan keduanya syahid di medan perang tak kuasa menahan sedih, beliau pun bersaksi bahwa keduanya adalah sahabat dunia akhirat dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

Lagi-lagi Allah memuliakan Salim di akhir hayatnya dengan menghadiahkan syahid di akhir hayat Salim, sang penjaga Al Qur’an terbaik di masa Rasulullah Saw.