Di zaman sekarang, kekayaan sering kali diidentikan dengan suatu keserakahan. Mungkin karena mata dan hati kita sering kali menyaksikan banyak orang yang menjadi lalai karena harta kekayaan, persaudaraan jadi terputus, perselesihan mudah terjadi karena satu benda bernama uang.

Melihat fenomena tersebut banyak orang jadi berpikir pesimis dan membenarkan pernyataan bahwa lebih baik miskin tapi hidup damai, lebih baik tidak punya uang tapi tidak punya musuh, lebih baik harta sedikit tapi tidak bertengkar dengan sesama.

Padahal Allah memberi kita pilihan yang lebih baik dengan berpikir bahwa lebih baik kaya tapi tetap baik hati, banyak harta tapi rajin bersedekah, kaya raya namun memiliki banyak teman baik.

Jika ada pikiran yang lebih baik, kenapa harus berpikir dan berkata yang merendahkan diri kita sendiri. Padahal Allah sudah menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna.

Karena setiap kata yang keluar bisa saja menjadi satu doa yang terkabul. Maka berhati-hatilah dengan lisan.

Jika kita mau membuka mata lebih luas, di luar sana banyak orang kaya yang dengan kedermawanannya mampu menjadi kepanjangan tangan untuk orang-orang yang membutuhkan.

Padahal di zaman Rasulullah sendiri sudah banyak dicontohkan dengan harta kekayaan justru mampu membuat pemiliknya menjadi lebih dekat dengan Allah Swt.

Buktinya para sahabat Rasulullah yang kaya dan dermawan tetap memiliki hubungan sosial yang terjaga dengan baik, amalan mereka banyak sehingga hidupnya dalam kasih sayang Allah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta, tapi kekayaan itu adalah kaya jiwanya.” (HR. Bukhari no. 6446)

Makna Ghina (Kekayaan) adalah apa-apa yang membuat cukup. Maka, ketika seseorang yang sudah merasa cukup, maka dia kaya. Tapi, orang yang tidak pernah merasa cukup, maka dia belum kaya, meski hartanya melimpah ruah.

Ada pun Ghaniy, artinya orang yang memiliki kekayaan. Sedangkan Al Ghaniy (Maha Kaya) adalah salah satu asma Allah.

Kekayaan itu Ghinan Nafs (kaya jiwanya). Maksudnya jiwa yang yang cukup, jiwa yang kenyang.

Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berkata:

Hakikat kekayaan dan kekayaan yang terpuji adalah kaya jiwanya, jiwa yang kenyang terhadap dunia dan sedikit hasrat terhadapnya, bukan banyaknya harta lalu dia berambisi kepada harta dan kikir terhadapnya, justru itu fakir yang sebenarnya, sebab pemilik harta tersebut sama sekali tidak pernah merasa cukup.

Namun, menjadi kaya harta, asalkan bersyukur dan mengelola harta untuk fisabilillah, maka itu juga keutamaan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Amr bin al Ash Radhiallahu ‘Anhu :

“Wahai Amr, Sebaik-baiknya harta adalah harta yang dimiliki (dikelola) oleh orang shalih.” (HR. Ibnu Hibban, lihat Mawarid Azh Zham’an no. 1089)

Harta memang berpotensi membuat lalai dan fitnah, tapi sebaiknya harta justru bisa juga membawa manfaat dan rahmat jika dikendalikan oleh orang sholeh.

Cerdasnya orang-orang sholeh mampu mengendalikan hasrat terhadap harta dan justru menjadikanya sebagai ladang amal untuk kebahagiaan dunia akhirat. Salah satunya dengan rajin bersedekah.

Betapa dahsyatnya sedekah yang dilakukan dengan ikhlas, sebagaimana firman Allah Swt

 

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًاكَثِيرَةً وَاللهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

 

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS Al Baqarah : 245)

Terlebih sedekah kepada para penghafal Qur’an, para pejuang yang menjaga kalam-kalam Allah. Betapa banyak pahala jariyah mengalir di dalamnya.

Semoga Allah mampukan kita menjadi orang yang kaya lahir bathin sehingga ridho Allah pun selalu menaungi setiap langkah kita.