Percayakah Anda bahwa masih ada banyak wanita shalihah di era modern seperti sekarang? Yang mampu mendidik 10 anaknya menjadi putra-putri yang sholeh sholehah dan hafal Al Qur’an?

Seorang wanita yang bukan ibu rumah tangga biasa dan memiliki kesibukan luar biasa seperti menjadi anngota DPR-RI, dosen kampus, aktivis perempuan, dan masih banyak deretan aktivitas lainnya.

Beliau adalah Ibu Dra. Wirianingsih, Bc.Hk. yang lahir di Jakarta, 11 September 1962 (57 tahun). Bersama sang suami Mutammimul Ula (Kang Tamim) yang juga anggota DPR-RI dari fraksi yang sama yaitu PKS, mereka mendidik dengan sungguh-sungguh menjadikan anak-anaknya sebagai anak yang sholeh sholehah dan hafal Al Qur’an.

Dengan menerapkan pola kehidupan Islami di tengah kemajuan zaman, sang ibu Wirianingsih lah yang menjadi penggerak utama untuk semua anaknya menjadi penghafal Al Qur’an. Sementara sang ayah Bapak Mutammimul Ula lebih banyak menghabiskan waktunya di luar untuk bekerja dan berdakwah. Di balik kesuksesan seorang suami, peran istri sholehah menjadi faktor utama jalannya sebuah rumah tangga islami.

Lalu bagaimana mereka mendidik anak-anaknya di tengah kesibukannya yang luar biasa? Kuncinya adalah keseimbangan proses. Perempuan yang juga pernah menjadi Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan pernah pula menjadi Ketua Umum PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang cabangnya sudah tersebar di 29 provinsi dan lebih dari 400 daerah di Indonesia ini juga berusaha semaksimal mungkin menetapkan pola hubungan keluarga yang hangat dan saling bertanggung jawab satu sama lain. Di samping itu keistiqomahan dan kekuatan tekad juga menjadi landasan awal dalam menjalani semua proses ini.

Hal sederhana yang mereka terapkan yaitu dengan meniadakan televisi di lingkungan keluarga, tidak memasang gambar-gambar dinding kecuali kaligrafi, tidak mendengarkan musik yang melalaikan, serta tidak ada perkataan kotor baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar.

Selain itu tahapan pertama untuk mendidik 10 anaknya adalah dengan memiliki visi dan konsep yang jelas yaitu menjadikan anak-anaknya sebagai penghafal Al Qur’an.

Kedua, membiasakan diri untuk selalu berinteraksi dengan Al Qur’an dengan menejemen waktu yang jelas. Alokasi waktu yang diberikan oleh Ibu Wirianingsih untuk mengajar anak-anaknya menghafal Al Qur’an adalah ba’da sholat subuh dan sholat maghrib. Kedua waktu khusus untuk bersama Al Qur’an itu tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Hal ini diterapkan oleh beliau semenjak anak-anaknya masih batita, sering konsisten membacakan Al Qur’an di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan sampai mendirikan TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an) di rumahnya.

Ketiga, adanya komunikasi yang baik yang disampaikan kepada anak-anaknya untuk apa tujuan menghafal Al Qur’an, serta sering memberikan hadiah setelah anak-anak mencapai target tertentu dalam menghafal Al Qur’an. Ibu Wirianingsih mengaku, awalnya anak-anaknya merasa terpaksa dalam menghafal Al Qur’an, namun lambat laun rasa terpaksa itu berubah menjadi sebuah kebutuhan jiwa yang tidak bisa ditinggalkan.

Keutamaan-keutamaan menjadi hafidz dan hafidzah juga sering beliau sampaikan kepada anak-anaknya sehingga menjadi pemicu semangat mereka dalam menghafal Al Qur’an, di antaranya :

  1. Bahwa para penghafal Al Qur’an didahulukan daripada yang lainnya dalam shalat sebagai imam
  2. para penghafal Al Qur’an Didahulukan dalam kepemimpinan kalau dia mampu mengembannya
  3. Penghafal Al Qur’an adalah keluarga Allah ‘Azza wa Jalla di dunia
  4. Allah akan memberikan kepada para penghafal Al Qur’an di akhirat berupa mahkota kehormatan.
  5. Allah akan mengumpulkan para penghafal Al Qur’an bersama malaikat yang mulia lagi taat.
  6. Para penghafal Al Qur’an pun akan ditinggikan derajatnya saat berada di surga.
  7. Para penghafal Al Qur’an akan mendapatkan pertolongan (syafaat) seperti hadits-nya, dari Abi Umamah ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata, “Bacalah Quran, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafal).” (HR. Muslim).
  8. Tidak saja bagi para penghafal Al Qur’an itu sendiri, orangtua mereka pun akan mendapatkan pertolongan di hari kiamat.
  9. Menghafal Al Qur’an berfaedah bagi setiap penghafalnya dalam urusan perniagaan mereka.
  10. Dan masih banyak keutamaan-keutamaan lainnya.

Berikut profil ke sepuluh anak-anak Ibu Wirianingsih dan Bapak Mutammimul Ula dengan berbagai prestasinya :

Anak pertama, Afzalurahman Assalam
Putra pertama. Hafal Al-Qur’an sejak usia 13 tahun. Menempuh studi di Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.

Anak kedua, Faris Jihady Hanifah
Putra kedua. Hafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Menempuh studi di Fakultas Syariah LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.

Anak ketiga, Maryam Qonitat
Hafal Al-Qur’an sejak usia 16 tahun. Menempuh studi di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah, 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syaikh Al-Azhar.

Anak keempat, Scientia Afifah Taibah
Putri keempat. Hafal 29 juz sejak SMA. Menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur’an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.

Anak kelima, Ahmad Rasikh ‘Ilmi
Putra kelima. Ketika masih duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan sudah hafal 15 juz Al Qur’an. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.

Anak keenam, Ismail Ghulam Halim
Putra keenam. Saat duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor sudah hafal 13 juz Al-Qur’an. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.

Anak ketujuh, Yusuf Zaim Hakim
Putra ketujuh. Ketika masih duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor sudah hafal 9 juz Al-Qur’an. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.

Anak kedelapan, Muhammad Syaihul Basyir
Putra kedelapan. Alumni  MTs Darul Qur’an, Bogor ini sudah hafal Al-Qur’an 30 juz pada saat kelas 6 SD.

Anak kesembilan, Hadi Sabila Rosyad
Putra kesembilan. Ketika masih bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan sudah hafal 2 juz Al-Qur’an. Di antara prestasinya adalah juara I lomba membaca puisi.

Anak kesepuluh, Himmaty Muyassarah
Putri kesepuluh. Saat bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan sudah hafal 2 juz Al-Qur’an.

Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai orang tua untuk tidak mengantarkan anak-anak kita menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah serta hafidz dan hafidzah. Anak adalah amanah, anak adalah investasi orang tua untuk kehidupan akhirat. Didiklah mereka sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Semoga kita sebagai orang tua dimampukan oleh Allah untuk mendidik anak-anak kita menjadi generasi Qur’ani yang sholeh dan sholehah.

 

Amin.