Duhai engkau yang ingin menjadi bagian dari keluarga Allah di dunia.

Sudah sejauh mana kau melangkah? Adakah perubahan kebaikan dan perbaikan yang senantiasa kau lakukan?

Kiranya engkau memahami bahwa perjuangan ini akan berat, namun akan berbalas dengan balasan yang manis luar biasa, tentunya tak akan ada langkah yang terhenti ketika kau merasa lelah, jenuh, bahkan putus asa pada saat halaman demi halaman kau hafalkan.

Bukankah ada hal yang jauh lebih penting dari syurga, yang mampu mengobati dahaga hati para hamba yaitu melihat keindahan Rabb-Nya.

Yakinkan dirimu ketika telah memutuskan untuk menghafal Al Qur’an. Hujamkan dalam jiwamu bahwa ini adalah jalan mulia. Ingatkan dirimu selalu bahwa kau adalah manusia pilihan-Nya untuk menjaga Al Qur’an-Nya.

Karena sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an.

Jaga selalu hubunganmu dengan Allah, sesama, dan alam sekitarmu. Jaga pula hati dan jiwamu agar senantiasa dalam keadaan mengingat-Nya.

Mungkin akan ada tangis dan air mata yang terus mengalir, tapi percayalah, yakinlah bahwa ini hanyalah sementara, semua akan digantikan dengan kebahagiaan-kebahagiaan tiada tara.

Sudahkah engkau merasakan nikmatnya bertilawah, damainya hati ketika murajaah, seimbangnya jiwa ketika kau mampu menjaga kalam-kalam Nya.

Sudikah engkau jika semua itu digantikan dengan kenikmatan duniawi yang hanya sesaat?

Ingatlah wahai saudaraku, kau ini adalah keluarga Allah di dunia. Syukuri lah semua itu karena tidak semua makhluk di bumi ini dikehendaki oleh-Nya untuk mendapat posisi itu.

Bisakah kau bayangkan kelak di akhirat, dengan mudahnya Allah mempersilahkanmu menaiki tangga demi tangga menuju syurga tertinggi sesuai dengan hafalan qur’an yang kau punya.

Bisakah kau rasakan ketika hatimu teramat riang gembira bertemu dengan sang kekasih pembawa kitab suci al Qur’an Muhammad Rasulullah Saw.

Bisakah kau bayangkan ketika Allah dengan rahmat-Nya mempersilahkanmu memberikan syafaat kepada 10 anggota keluargamu agar juga dimasukkan ke dalam syurga-Nya.

Jika kau teringat semua itu, masihkah ada rasa lelah, penat, putus asa, bosan, jenuh, dan lain sebagainya?

Teruslah berjalan meski tertatih, tetaplah melangkah meski terasa lelah, semua akan indah pada waktunya ketika perjumpaan itu telah tiba.