Indonesia dengan negara berpenduduk mayoritas muslim banyak diberi kemudahan oleh Allah mengenai fasilitas untuk belajar agama. Pondok pesantren bertebaran dimana-mana, masjid ada hampir di setia gang, mushaf Al Qur’an mudah didapatkan bahkan satu orang memiliki lebih dari satu mushaf.

Meski di beberapa wilayah lain masih ada yang kekurangan mushaf Al Qur’an, namun kenikmatan beribadah seperti sholat berjamaah di masjid masih bisa dirasakan oleh penduduk muslim di negeri ini.

Kita bisa sholat berjamaah kapanpun dan dimanapun tanpa merasa tertekan oleh serangan-serangan konflik.

Tapi, apakah itu semua sudah membuat kita semangat untuk beribadah kepada Allah terutama dalam hal mempelajari Al Qur’an?

Nikmat mana lagi yang kita dustakan sebagai seorang muslim yang tinggal di negara mayoritas beragama islam, seharusnya hal ini bisa lebih menyulutkan semangat kita dalam beribadah.

Tidak malukah kita kepada saudara-saudara muslim kita di Afrika yang mengalami kesulitan dalam beribadah? Kondisi negara yang miskin dan penuh tekanan karena konflik peperangan yang berkepanjangan, seharusnya bisa menjadi alasan mereka untuk malas beribadah karena tidak adanya sarana yang memadai.

Namun tidak demikian, justru dibalik konflik yang mereka alami, ada semangat membara dari jiwa-jiwa yang mencintai Allah untuk senantiasa beribadah mempelajari kalam-Nya.

Republik Demokratik Somalia terletak di timur laut Afrika. Ini adalah wilayah yang dikenal sebagai tanduk Afrika. Negara ini berbatasan langsung dengan Djibouti di barat laut, Ethiopia di barat, dan Kenya di barat daya. Teluk Aden memisahkan Somalia dari semenanjung Arab, dan Samudra Hindia berbatasan dengan wilayah timur dan selatannya.

Salah satu yang bisa kita lihat dari negeri tersebut adalah semangat anak-anak Somalia dalam belajar dan menghafal Al Qur’an di tengah keterbatasan yang begitu dahsyat.

Bukan lembara mushaf atau aplikasi pada gadget yang mereka gunakan untuk belajar Al Qur’an, melainkan tulisan-tulisan Al Qur’an yang diukir pada batang-batang kayu seadanya, agar dapat dibaca dan dihafal oleh jutaan masyarakat muslim di Afrika.

Semangat mereka tak pernah padam, meski dalam keadaan yang serba susah mereka terus berusaha belajar dan menghafal Al Qur’an.

Proses belajar pun bukan dilakukan di dalam ruangan sebagaimana madrasah-madrasah yang ada di Indonesia. Melainkan mereka hanya belajar di pelataran terbuka beralaskan tanah dan beratapkan langit.

Tidak malukah kita yang tinggal di Indonesia, kondisi negara yang aman dengan fasilitas ibadah yang berkelimpahan namun tidak membuat kita semangat untuk menghafal Al Qur’an?

Apa yang bisa kita lakukan setelah mengetahui hal ini?

Setidaknya kita bisa menyalurkan bantuan untuk saudara-saudara muslim di Afrika melalui lembaga-lembaga kemanusiaan yang ada di Indonesia. Bantuan bisa berupa donasi untuk pembelian mushaf  Al Qur’an atau kebutuhan lainnya. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya.

Terima kasih juga selalu kita haturkan kepada para donatur yang senantiasa memberikan sebagian besar hartanya untuk keperluan para santri di Kampoeng Tahfidz Cilik.

Bagi saudara-saudara yang juga ingin menyalurkan sebagaian hartanya untuk keperluan para penghafal Al Qur’an di Kampoeng Tahfidz Cilik, silahkan bisa melalui rekening yang tertera pada brosur di bawah ini.

Semoga Allah senantiasa memerikan limpahan rahmat untuk kita semua. Amin