2. Pencari Nafkah Keluarga

Peran ayah dalam keluarga yang selanjutnya adalah menjadi pencari nafkah keluarga. Peran ayah dalam keluarga selain sebagai pemimpin adalah sebagai pencari nafkah untuk keluarganya.

Sebagaimana Allah Berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Sebab itu maka perempuan yang shalehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. An-Nisa: 34).

Nafkah yang dicari oleh seorang ayah ini juga haruslah nafkah yang halal, karena Allah sudah menentukan rezeki bagi setiap orang. Allah berfirman: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya,” (QS. An-Nahl: 114).

3. Menjadi Suami dan Ayah yang Baik

Selain itu, peran ayah dalam keluarga menurut Islam adalah menjadi sosok suami sekaligus ayah yang baik.

Misalnya, suami dan ayah yang penuh kasih dan cinta, berlaku adil dalam keluarga, serta bertanggungjawab kepada keluarganya.

Perintah untuk menjadi suami yang adil ini terdapat dalam ayat Alquran Surat An-Nisa ayat 129, Allah SWT berfirman:

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ketika terdapat konflik keluarga, sebaiknya seorang ayah mempertimbangkan keputusan adil bagi seluruh anggota keluarga.

Karena istri dan anak-anak memiliki hak mereka, maka sang ayah harus memenuhi hak tersebut dengan adil. Misalnya, meski sibuk mencari nafkah, tetapi ayah sebaiknya juga memberikan waktu luang untuk dinikmati bersama keluarga sehingga tetap rukun dan harmonis.

Sementara itu, suami bertanggungjawab yang dimaksud yakni harus memenuhi kewajiban mereka terhadap keluarga. Selain mencari nafkah, memenuhi kebutuhan secara lahiriah, ayah juga bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan batin.

Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Alquran yang berbunyi:

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf” (QS. al-Baqarah: 233).

Kebutuhan batin terhadap istri ialah dalam bentuk berhubungan suami istri. Sementara kebutuhan batin anak-anak berupa pemberian pendidikan agama Islam dengan akhlak yang mulia.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahriim: 6).

Salah satu contoh pendidikan Islam yang sebaiknya diajarkan pada anak, yaitu mengenalkan Allah SWT dengan cara mendirikan sholat.

“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman: 17).

Part 3 klik di sini