Andakah salah satu orang yang sudah berusia lanjut namun mempunyai cita-cita menjadi penghafal Al Qur’an?

Terkadang rasa ingin menghafal begitu kuat, namun tak jarang pula semangat itu tiba-tiba menurun begitu saja bahkan hilang tak tersisa. Keraguan dalam diri menyelimuti seperti tak yakin akan kemampuan diri dan kuasa ilahi, bisa menjadikan Al Qur’an menghujam di dalam hati.

Jika masih ragu, yuk yakinkan diri. Selama ada kemauan insya Allah disitu akan ada jalan.

Pernahkah Anda mendengar seseorang yang sudah berusia lanjut namun bisa menghafal Al Qur’an?

Penglihatan mereka masih awas untuk mencermati Al Qur’an huruf demi huruf, suara mereka masih lantang melantunkan Al Qur’an ayat demi ayat, bahkan tenaga mereka pun masih segar untuk meluangkan waktu menghafal kalam Allah tersebut.

Sebagaimana yang terjadi pada seorang nenek berusia 80 tahun yang mampu menghafal 3 juz Al Qur’an dalam waktu 3 tahun. Beliau adalah Siti Aisah, seorang nenek berusia 80 tahun yang memiliki 13 cucu, berasal dari Sidoarjo Jawa Timur.

Beliau salah seorang wisudawan tahfiz Al Qur’an dalam acara Majelis Pencinta Al Qur’an di Ruang Shofa Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) bulan Septemner tahun 2019 lalu.

Sang nenek mendapat dua penghargaan sekaligus yaitu sebagai wisudawan inspiratif dan hafidzah tertua di antara 280 peserta.

Matur nuwun nggih, Nak…,’’ ucapnya saat menerima piala dan piagam dari panitia. Saat disanjung bahwa usahanya menghafal Al Qur’an bisa menjadi teladan bagi generasi muda, Aisah hanya menjawab singkat.

’’Inggih,’’ tuturnya yang disambut tepuk tangan peserta lain. Setelah wisuda, didampingi menantu dan anak pertamanya, Syamsul Huda, Aisah keluar dengan wajah semringah. Gurat wajah tuanya tidak mengurangi semangat menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan wartawan dan pengunjung yang meminta foto.

’’Saya terus menghafal sejak tiga tahun lalu,’’ ucapnya. Saat itu, usia nenek asal Desa Gelam, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, tersebut sudah 77 tahun. Bukan termasuk usia muda untuk urusan hafal-menghafal. Tapi, Aisah mendobrak itu.

Diawali dengan menghafal juz 30 yang berisi surat-surat pendek, lalu mundur ke juz 29. Kemudian beralih ke juz awal yakni juz 1. Ia menghafalkannya dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Tidak ada metode khusus yang dijalankan, selagi ada waktu luang, beliau menggunakan waktunya dengan baik untuk menghafal Al Qur’an.

Pagi, siang, malam, waktunya diisi bersama Al Qur’an. Dengan semangatnya yang tak pernah padam di usia senja, beliau mampu menghafal Al Qur’an tanpa menggunakan kacamata, badannya masih sehat, wajahnya selalu riang gembira. Al Qur’an benar-benar membuat hati nenek 80 tahun tersebut menjadi bahagia.

Saat ditanya soal resep sehat di usia sepuh, Aisah hanya tertawa. Menampakkan gigi depannya yang tinggal tiga biji. Katanya, tidak ada rahasia khusus. Rutinitas yang dia jalankan sama dengan lansia pada umumnya. Banyak istirahat. Yang beda mungkin soal kemandirian.

Meski enam anaknya sudah sukses, Aisah tetap melakukan semuanya secara mandiri. Misalnya, mencuci pakaian. Beliau melakukannya sendiri setiap hari.

Sekarang bagaimana dengan Anda, masih ragu untuk menghafal Al Qur’an di usia yang tak lagi muda?

Bukankah Allah sendiri yang menjanjikkan bahwa Al Qur’an diturunkan tidak untuk membuat kita susah

 

مَآأَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ لِتَشْقَى

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;” (QS.Thaha : 2)

 

Hidup kita akan mudah dengan Al Qur’an sebagaimana Al Qur’an diturunkan untuk ummat manusia di dunia dengan memberikan kemudahan-kemudahan dan keajaiban-keajaiban di dalamnya.

Kita tidak dapat merubah isi Al Qur’an, namun isi Al Qur’an yang dapat merubah kehidupan kita penuh dengan kemudahan, kebahagiaan, dan keajaiban.