Pernakah Anda yang sedang berjuang menghafal Al Qur’an tapi malas mengulangnya? Kenapa bisa begitu? Yuk simak penjelasan berikut

Seseorang yang memiliki hafalan Al Qur’an haruslah banyak bersyukur karena itu adalah nikmat tiada tara dari Allah Swt, itu karunia yang sangat besar dan diberikan kepada orang-orang terpilih, harus senantiasa dijaga hingga maut menjemput.

Memang menjaga hafalan tidaklah semudah yang dibayangkan, rasa malas yang sering kali menghampiri menjadi kendala tersendiri untuk mengulang kembali kalam-kalam ilahi agar tertancap di dalam hati.

Jika rasa malas menghampiri, segera cari solusi agar semua bisa teratasi dan semangat murojaah datang kembali.

Lalai dalam murojaah adalah sebuah kerugian besar, karena lalai terhadap nikmat yang sudah Allah titipkan sedemikian rupa. Murjojaah atau mengulang hafalan sangat penting bagi para penghafal Al Qur’an. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadist

“Bersungguh-sungguhlah untuk berjanji menjaga Al-Qur`an ini, Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh Al-Quran lebih cepat terlepas daripada unta dari tali ikatannya.” (HR: Muslim)

Ja’far As-Shidiq juga berkata, “Hati adalah tanah, ilmu itu tanamannya dan hafalan adalah airnya, jika tanah tidak disirami air maka tanamannya akan kering.”

Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa mengulang hafalan (murojaah) adalah sebuah keniscayaan bagi penghafal Al Qur’an, banyak di antara kaum muslimin yang semangat dalam menambah hafalan akan tetapi malas dalam mengulang, hal itu dikarenakan:

1. Terlalu Berpacu pada Target

Terburu-buru dalam menghafal karena diburu oleh target ternyata menjadi masalah tesendiri, baik target pribadi maupun lembaga atau organisasi. Tidak sedikit, target itu dibuat karena malu dengan teman yang lebih cepat dalam menghafal sehingga setiap hari atau pertemuan harus kejar setoran.

Akibatnya adalah sering terjadi ketidakseimbangan antara kualitas dan kuantitas pada hafalannya, sebagian besar mereka banyak yang memilih untuk fokus dalam menambah hafalan saja sehingga murojaah sering terlupakan.

Boleh saja memburu target asalkan seimbang antara porsi menambah dan mengulang hafalan. Jadi setoran terus, murojaah juga jalan terus. Sehingga ketika sudah khatam 30 juz tidak perlu mulai dari awal lagi untuk mengulang hafalan. Khatam 30 juz diiringi dengan hafalan yang sudah lancar.

2. Hafalan Tidak Lancar

Penghafal Al Qur`an itu dibagi menjadi 3 tingkatan yang yaitu benar-benar hafal (mutqin), sekadar hafal, dan hafal-hafalan, sekadar hafal dan hafal-hafalan itu adalah tingkatan yang harus diwaspadai karena itu menjadi penyebab seseorang malas dalam mengulang. Ibarat virus, hafalan yang tidak lancar itu bisa mempengaruhi hafalan kita yang lancar jika tidak segera diperbaiki.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara mencari tahu sebab mengapa hafalan tidak lancar, apakah karena metode yang kurang sesuai, apakah kurangnya dalam murojaah atau lainnya, setelah itu dicari solusinya.

3. Tidak Mempunyai Komunitas yang Mendukung

Mengulang hafalan itu seperti iman kita, ada kalanya naik ada kalanya turun, dan itu wajar. Menjadi tidak wajar ketika motivasi turun tidak segera bangkit apalagi putus asa sehingga tidak melanjutkan hafalannya. Maka disini perlunya komunitas untuk menjaga hafalan kita.

Sebab kegagalan dalam menghafal adalah tidak memilki teman dan guru, pepatah mengatakan :

“Barangsiapa yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan.”

Jika kita memiliki komunitas, maka semangat dan keistiqomahan akan terus terjaga, menghafal akan semakin mudah karena ada guru yang selalu membimbing, dan akan semakin menyenangkan jika ada teman yang selalu memotivasi. Oleh karenanya, diri kita adalah bagaimana lingkungan kita. Kampoeng Tahfidz Cilik adalah komunitas yang tepat bagi anak-anak untuk menghafal Al Qur’an di bawah naungan Pesantren Qoiman Qurroul Qur’an yang terletak di Cinere, Kota Depok, Jawa Barat

Yuk, semangat murojaah sehingga hafalan kita menjadi benar-benar kokoh tak tegoyahkan (mutqin).