“Kami telah memudahkan al Qur’an untuk dihafal dan dijadikan nasehat. Karena itu, adakah orang yang peduli dengan nasehat al Qur’an.” (QS. Al-Qamar: 17)”

Siapa saja berhak menjadi hafidz Qur’an tak terkecuali oleh orang – orang yang diberi keistimewaan oleh Allah Swt, seperti halnya Muadz Al Hafidz seorang pemuda tuna netra asal Mesir yang mampu menyelesaikan hafalan Qur’an 30 juz di usia 11 tahun dalam kondisi matanya yang tidak dapat melihat.

Sungguh ini semata-mata karena rahmat Allah menjadikan Muadz seorang penghafal Qur’an.

Semangatnya dalam menghafal al Qur’an tak pernah pudar, menyetorkan hafalan ke rumah gurunya yang berjarak puluhan kilometer tak sedikitpun membuat semangatnya menciut.

Kisahnya pun sempat diliput di salah satu stasiun TV yang dipandu oleh salah seorang imam masjid bernama Syaikh Fahd Al Kandari. Dalam wawancaranya beliau bertanya kepada Muadz bagaimana dia bisa menghafal al Qur’an dengan kondisinya yang seperti ini.

Muadz pun bercerita bahwa dia sendirilah yang datang ke rumah gurunya tiga kali dalam seminggu. Awalnya sang guru hanya mau menerima kedatangan Muadz seminggu sekali. Namun berkat kegigihannya, Muadz diberikan waktu tiga kali seminggu dalam belajar Al Qur’an. Itupun sang guru hanya mau mengajarinya satu ayat tiap kali pertemuan.

Dalam doanya Muadz pun tidak pernah meminta kepada Allah agar dikembalikan penglihatannya, hanya rahmat Allah lah yang ia harapkan. Agar kebutaannya tersebut, kelak bisa menjadi hujjah di hadapan Allah Swt di hari akhirat.

Mendengar hal itu, Syaikh Fahd Al Kandari pun menangis karena merasa malu pada dirinya sendiri, selama ini sudah diberikan begitu banyak nikmat dari Allah namun sering kali ia sia – siakan.

Lalu bagaimana dengan kita yang memiliki fisik sempurna, tidakkah kita malu pada diri sendiri jika masih lalai dalam belajar dan menghafal al Qur’an?