Corona atau covid-19 menjadi penyakit yang kini ditakuti oleh sebagian besar penduduk bumi. Virus yang menyebar pertama kalinya di Kota Wuhan China, kini telah merebak ke berbagai belahan dunia bahkan di negara kita sendiri Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk bisa menangani kasus tersebut. Lalu bagaimana kita sebagai ummat muslim menyikapi hal ini?

Tiada daya dan kekuatan selain dari Allah SWT, sudah sepatutnya kita terus berdoa untuk meminta perlindungan kepada-Nya dan terus berikhtiar menghadapi musibah ini.

Tahukah Anda, ternyata wabah penyakit yang menyebar itu dulu juga pernah terjadi di zaman Khalifah Umar bin Khattab r.a.?

Pada tahun 18 H Umar bin Khattab dan para sahabat melalukan perjalanan dari Madinah menuju Syam. Ketika sampai di perbatasan Jordan dan Syam, perjalanan mereka terhenti oleh romobongan Abu Ubaidah bin Al Jarrah yang merupakan Gubernur Syam. Mereka mengabarkan bahwa negerinya sedang dilanda wabah tha’un amwas yang merupakan sebuah penyakit menular berupa benjolan yang menyebar ke seluruh tubuh dan akhirnya pecah mengeluarkan darah. Penyakit tersebut berasal dari Palestina tepatnya di daerah Amwas.

Mendengar berita itu, Amirul Mukminin Umar bin Khattab meminta pendapat kepada para sahabat yang ikut denganya baik dari kalangan muhajirin, anshor, dan orang-orang yang ikut dalam peristiwa Fathul Makkah.

Pada saat itu terjadilah perbedaan pendapat. Namun tidak berlangsung lama, perdebatan tersebut segera berakhir ketika Abdurrahman bin Auf r.a. mengucapkan sebuah hadist yang disampaikan oleh Rasullah SAW :

Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri, maka jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Akhirnya Umar pun memutuskan untuk membatalkan niatnya memasuki negeri Syam.

Mendengar hal tersebut, Abu Ubaidah r.a bertanya kepada Umar, “Mengapa engkau lari dari takdir Allah?”

Umar pun menjawab pertanyaan Gubernur Syam tersebut dengan bijaksana, “Jika engkau mempunyai kambing, dan ada dua lahan yang satu kering dan yang satunya lagi lahan subur. Kemana engkau akan kerahkan kambing-kambingmu? Jika engkau gembalakan ke lahan kering itu adalah takdir Allah. Jika engkau gembalakan ke lahan yang subur, itu juga takdir Allah. Begitu juga dengan kami, kami akan meninggalkan takdir Allah dengan tidak memasuki kota Syam dan beralih ke takdir Allah yang lain yaitu kembali pulang ke Madinah.”

Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah. Meski Khalifah Umar bin Khattab sendiri merasa tidak kuasa meninggalkan Abu Ubaidah ra. sahabat yang sangat dicintainya.

Sesampainya di Madinah, Umar menulis surat untuk Abu Ubaidah ra. bermaksud mengajaknya untuk kembali ke Madinah.

Namun beliau adalah Abu Ubaidah ra, seorang pemimpin yang amanah dan sangat zuhud terhadap dunia, beliau hidup bersama rakyatnya dan akan mati pula bersama rakyatnya. Umar ra. pun menangis membaca surat balasan tersebut.

Beberapa saat setelah itu, tangis Umar makin bertambah ketika mendengar Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, dan sahabat-sahabat mulia lainnya radiyallahuanhum wafat karena wabah tha’un amwas di negeri Syam.

Total sekitar dua puluh lima ribu muslimim wafat, hampir separuh dari penduduk Syam ketika itu.

Waktu silih berganti, hingga akhirnya kepemimpinan Syam beralih pada Amr bin Ash. Dengan kecerdasannya, beliau berpikir keras bagaimana mengatasi wabah tha’un yang sedang melanda negeri Syam. Berkat jiwanya yang sangat dekat dengan alam, munculah pemikiran beliau yang cukup memberikan solusi menghadapi wabah penyakit tersebut. Beliau berkata :

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jauhilah dan berpencarlah dengan pergi ke gunung-gunung.”

Mereka pun berpencar dan mendaki ke gunung-gunung secara berkelompok.

Amr bin Ash mengilustrasikan penyakit ini layaknya kobaran api karena cepat sekali menular ke orang lain, bagaikan api jika sudah tidak ada lagi objek yang disasar atau bahan yang dibakar, maka akan mati sendiri.

Dan benarlah analisa Amr bin Ash ini, wabah penyakit tha’un amwas ini pun hilang dengan sendirinya.

Lalu bagaimana kita sekarang harus bersikap menghadapi  wabah virus corona yang sedang melanda saat ini?

Pertama adalah bersabar menghadapi ujian dari Allah ini, sebagaimana hadist yang disampaikan oleh Rasulullah SAW :

Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap di kampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Kedua, isolasi diri. Jangan berkunjung ke daerah yang banyak terkena wabah atau tidak mendatangkan orang dari luar yang bisa membawa wabah ke tempat kita.

Ketiga, selalu berdoa kepada Allah dengan dzikir pagi dan petang :

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فىِ اْلاَرْضِ وَلاَ فىِ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ.

.
“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Keempat, senantiasa berbaik sangka pada Allah SWT

“Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya.” (HR. Bukhari)

Kelima, berpencar atau menjaga jarak di keramaian serta menahan diri untuk tidak keluar rumah. Cara inilah yang diterapkan oleh Amr bin Ash dulu agar penduduk negeri Syam berpencar ke gunung-gunung atau sekarang disebut dengan social distancing.

Keenam, bersedekahlah. Karena sedekah bisa menolak bala’ dan memanjangkan umur.

Semoga wabah ini segara Allah angkat dan suasana kembali normal. Amin.