Memiliki anak laki-laki dan perempuan sejatinya sama saja, keduanya adalah anugrah sekaligus amanah dari Allah Swt. Pada keduanya terdapat keistimewaannya tersendiri.

Untuk Anda yang melahirkan anak perempuan jangan bersedih. Jangan menganggap bahwa perempuan itu lemah. Sebaliknya, anak perempuan justru menjadi anugerah terindah dan bisa menjadi penolong bagi orang tuanya.

Sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadist shahih:

“Barang siapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, kelak mereka akan menjadi penghalang dari api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ada banyak keutamaan yang dimiliki oleh perempuan. Seorang perempuan yang masih kecil bisa menjadi penyelamat orang tuanya di akhirat kelak. Ketika perempuan sudah menikah dan menjadi ibu, maka surga di bawah telapak kakinya. Oleh karena itu, kita tidak boleh meremehkan perempuan.

Namun demikian, Rasulullah mengatakan bahwa penduduk neraka terbanyak adalah dari kalangan perempuan. Sebab memang sifat perempuan yang mudah terjerumus ke dalam hal-hal buruk.

Nah, untuk menghasilkan generasi perempuan yang sholehah, hendaklah orang tua mendidik anak-anak perempuannya dengan benar sesuai syariat agama.

Berikut ini cara Rasulullah mendidik anak perempuan yang bisa kita teladani

1. Mengajarkan Ilmu Tauhid (Konsep Ketuhanan)

Dasar dari agama Islam adalah ilmu tauhid, yakni konsep tentang ketuhanan. Maka itu, hal pertama yang wajib orang tua ajarkan kepada anak perempuannya yakni tentang Allah. Kenalkan Allah kepada mereka, bahwa Allah itu Tuhan yang menciptakan manusia, dan Allah itu Maha Esa. Ajarkan anak untuk mengucapkan  Lailaha illaallah. Caranya dengan mengulang-ngulang terus bacaan syahadat  setiap hari hingga anak mulai familiar mendengarkannya. Lama-kelamaan anak pasti akan ikut mengucapkannya.

Setelah itu, Anda bisa menambahkan kosakata baru yakni Muhammad Darrasullullah, Muhammad adalah Rasul utusan Allah SWT.

Dijelaskan dari Ibn Abbas, Rasullullah SAW bersabda: “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah. Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman)

2. Mengajarkan Doa-doa Harian

Setelah menanamkan ilmu ketauhidan, anak juga perlu diajarkan tentang doa-doa harian. Misalnya doa sebelum dan sesudah makan, doa menjelang tidur, doa bercermin, doa keluar rumah, doa masuk kamar mandi dan sebagainya.

Ajarkan pula kalimat Bismillah kepada anak saat ia hendak melakukan sesuatu. Kemudian ketika urusan itu selesai, berikan contoh untuk mengucapkan Alhamdulillah. Tak lupa juga, ajari anak mengucapkan insya Allah ketika hendak menjalin janji. Dengan demikian, anak akan terbiasa dan mempraktekkannya hingga dewasa.

3. Mengajarkan Ilmu Agama (Solat, Puasa, Mengaji)

Jangan menunggu dewasa untuk belajar agama. Sebaiknya kita sendiri sebagai orang tua yang mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak sejak dini. Bahkan saat usianya masih balita, orang tua harus mulai menanamkan nilai-nilai agama.

Misalnya saja dengan mengajarkan anak membaca Al-Quran. Anda sendiri sebagai orang tua akan lebih utama jika bisa mengajarkan langsung kepada mereka atau menyekolahkan anak di TPQ atau madrasah mengaji ketika usianya menginjak 2-3 tahun.

Sedangkan untuk solat dan puasa, walaupun kewajibannya dilakukan saat anak baligh, namun alangkah baiknya kita ajarkan sejak kecil. Kita bisa memulai mengajarinya tentang kiblat, tata cara berwudhu dan gerakan solat saat usianya menginjak 4-7 tahun.

Sedangkan untuk belajar berpuasa bisa dimulai ketika usia 7 tahun. Tidak perlu puasa maghrib dulu, cukup semampunya. Misal dimulai dari puasa dhuhur, kemudian lanjut ke ashar hingga seterusnya.

Perintah  untuk mengajarkan solat dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad) 

Sedangkan perintah mendidik anak-anak untuk berpuasa dicontohkan oleh Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz, salah satu perempuan shalehah sahabat rasul. Ia berkata: “Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Part 2, klik di sini