Sesungguhnya sosok ayah sudah sering disebutkan dalam Al Qur’an. Betapa beratnya tugas seorang suami sekaligus seorang ayah dalam rumah tangga. Tidak hanya berkewajiban mencari nafkah, namun juga membimbing dan mendidik istri beserta anak-anaknya agar selalu berjalan di jalur yang Allah kehendaki.

Sosok ayah mungkin selama ini dikenal memiliki kepribadian yang cuek dan tegas. Bahkan, mereka terkadang sibuk dengan pekerjaannya dan hanya memiliki waktu terbatas bersama anak dan istrinya.

Kendati demikian, apa pun yang mereka lakukan tentu demi membahagiakan keluarganya. Sama halnya seperti ibu, kasih sayang ayah kepada anak juga tak ternilai dengan apa pun. Selain itu, sosoknya juga memiliki peran penting dalam hal mengasuh dan mendidik anak.

Bahkan, dalam Al-Quran ada beberapa kisah para Nabi yang berperan sebagai ayah dalam hal mendidik anak. Hal ini pun bisa jadi pembelajaran bagi umat-Nya. Lebih lanjutnya, mari kita simak penjelasan berikut.

Kisah Nabi yang Berperan sebagai Ayah dalam Mendidik Anak yang Terkandung di Al-Quran

 

1. Menunjukkan Perhatian melalui Doa

Mengutip Muslim, Nabi Ibrahim AS menjadi seorang ayah di usia yang sangat lanjut. Oleh sebab itu, ia sangat bahagia dengan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT karena akhirnya bisa menjadi seorang ayah. Terlepas dari usianya yang sudah tak muda, Nabi Ibrahim AS menunjukkan perhatian kepada anaknya melalui doa yang ia panjatkan kepada Allah.

Doa ini menunjukkan kepada kita apa yang terbaik untuk kesuksesan anak-anak di dunia dan akhirat.

“Ya Tuhanku,  jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim 14:40)

Demikian kepedulian yang diperlihatkan Nabi Ibrahim AS tidak hanya untuk anak-anaknya, tapi juga keturunannya di masa depan. Di ayat lain, Nabi Ibrahim pun memanjatkan doa kepada Allah SWT agar anak-anaknya dapat mematuhi perintah-Nya.

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau…,” (QS. Al Baqarah 2:128)

 

2. Menciptakan Komunikasi yang Sehat

Nabi Yaqub AS memiliki 12 anak laki-laki dan di antaranya yang termuda ialah Nabi Yusuf AS. Hubungan antara Nabi Yaqub dan Nabi Yusuf ini menumbuhkan suasana yang nyaman bagi keduanya untuk berkomunikasi. Nabi Yusuf pun tak segan berbagi mimpi indahnya dengan ayahnya. Sebaliknya, Nabi Yaqub sangat senang menjadi pendengar yang baik untuk anaknya.

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf.12:4)

Selain itu, sebagai seorang ayah, Nabi Yaqub memahami perbedaan dari tiap anak-anaknya. Ia pun memberikan nasihat kepada anaknya yang masih kecil untuk tidak mengungkapkan mimpi tersebut.

Saat melakukannya, ia memastikan untuk tidak mengadu domba Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya dan mengingatkan bahwa umat manusia rentan terhadap bisikan setan yang licik.

Sebagaimana hal ini pun terkandung dalam Surat Yusuf ayat 5 yang artinya sebagai berikut.

“Ayahnya berkata: ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia'”. (QS. Yusuf 12:5)

 

3. Ungkapkan Cinta dan Kasih Sayang Melalui Tindakan

Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam hal menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada orang-orang di sekitarnya. Dalam Al-Quran, Nabi Muhammad disebut sebagai rahmat bagi dunia.

Selain itu, Nabi Muhammad juga tidak pernah malu untuk menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada putrinya, Fatimah, bahkan di hadapan orang lain. Kasih sayang dan rasa hormat yang diberikan Nabi Muhammad itu akhirnya menular ke Fatimah dan ia menirukan segala tindakan sang ayah.

“Saya tidak melihat orang yang lebih mirip Rasulullah SAW dalam berbicaranya selain Fatimah. Ketika dia datang kepadanya, dia berdiri untuknya, menyambutnya, menciumnya, dan menyuruhnya duduk di tempatnya. Ketika Nabi datang kepadanya, dia berdiri untuknya, meraih tangannya, menyambutnya, menciumnya, dan menyuruhnya duduk di tempatnya. Dia datang kepadanya selama penyakit terakhirnya dan dia menyapanya dan menciumnya.” (Al-Adab Al-Mufrad, Hadist 971).

 

4. Memberikan Kebijaksanaan dan Nilai-nilai yang Baik

Luqman Al Hakim dianugerahi hikmah oleh Allah SWT yang ia gunakan untuk memberikan nilai-nilai baik kepada putranya. Luqman mengajari putranya tentang pentingnya kejujuran.

“(Luqman berkata): ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui'”. (QS. Luqman 31:16)

Selain memanggil putranya dengan sikap yang manis, Luqman Al Hakim juga mengingatkan anaknya untuk menjadi orang yang rendah hati sepanjang hidup dan menjaga hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam Al-Quran juga disebutkan :

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman 31:18)